Seminggu tanpa handphone..
Hari ini iseng-iseng aku menelpon nomor hapeku sendiri untuk memeriksa pesan suara (Voice Mailbox) tanpa disangka ternyata pesan yang masuk lumayan banyak, ada 30 pesan suara dari 28 nomor telepon yang berbeda, ada yang pesannya hanya “wooiii” ada yang pesannya minta ditelpon balik tapi tidak memberikan nama, lucunya pas ditelpon balik rupanya itu nomor wartel (cape deehh).
Handphone ku memang sudah seminggu ini mati, waktu kematiannya sih belum bisa ditentukan secara pasti karena belum diotpsi di RSCM (Rumah Sakit Cusus Mobile Phone :P)
Jadi begini ceritanya software HP itu agak “ngaco” jadinya harus di “flash” ulang Flex nya.. (aku menggunakan Motorola e398 yang di Flex pake Monster Pack Sony Ericsson Walkman)
Kalo dipikir-pikir, di zaman modern seperti sekarang ini. dimana informasi menjadi komoditi utama yang dapat mempengaruhi segala sendi kehidupan, maka tak pelak lagi handphone sebenarnya bisa dimasukan menjadi kebutuhan primer.
Dahulu kalo aku gak salah inget pak Abraham Maslow pernah bilang kalo kebutuhan fisiologis itu adalah kebutuhan paling esensial, seperti dilihat di bawah ini.
Namun aku bingung, manusia zaman sekarang sepertinya juga memasukkan kebutuhan komunikasi ini menjadi kebutuhan yang sangat esensial, karena kalo kebutuhan yang satu itu terpenuhi dan dikelola dengan baik, bisa dipastikan kebutuhan yang lainnya (kebutuhan sekunder dan tertier) akan aman juga. (gimana? betul gak?? tauk dah.. namanya juga ngarang. .hehehehe)
Mari kita kembali lagi ke ceritaku tadi, mengenai handphone yang mati itu loh…
Handphoneku yang mati itu ternyata membawa banyak dampak, baik yang postif maupun yang negatif..
Dampak positifnya adalah selama seminggu ini aku mengurangi radiasi eletromagnetik yang biasa di pancarkan ke otak dan satu lagi dampak positifnya adalah pulsaku jadi awet, karena kalo handphoneku nyala, tanganku tuh gak bisa diem, maunya telponlah, sms-lah, mau temen deket kek, temen jauh kek pokoknya judulnya di sms- in… hehehehe
Nah, mengenai dampak negatifnya ini kayaknya agak panjang dijelasinnya, kenapa ?? karena menyangkut dengan teori pak maslow diatas mengenai kebutuhan esensial, dengan tidak adanya komunikasi personal yang kugenggam, rasanya diriku terputus dengan dunia, gak tau kenapa tapi seminggu ini rasanya seperti sedang ikut pelatihan kader organisasi, aku terisolir dengan dunia, tiada kabar berita yang bisa dikirim ataupun diterima, hidupku kok mendadak serasa hambar dan anyep kayak nasi aking….
Dengan kondisi tiadanya kabar berita yang bisa dikirim atau diterima ini, aku merasakan seperti menjadi alien, menjadi satu-satunya drive yang tidak mounting, menjadi sebuah unknown device dan menjadi orang yang ketinggalan informasi.
Perasaanku diatas cukup beralasan loh, soalnya di Jakarta ini setiap aku menoleh pasti deh ada aja tuh yang cekikikan di pojok halte lagi baca sms lucu atau ada seorang anak sekolah diatas busway yang lagi ngerayu pacarnya lewat hape, atau tukang ojek yang terima order pengerahan massa kampanye lewat hape. Kalo udah begitu, gimana aku gak merasa terasing coba bayangin…?
(bayangin dulu dong, kalo udah baru boleh baca lanjutannya)
Sesudah seminggu ini aku bisa menarik kesimpulan bahwa zaman sekarang ini memang benar bahwa komunikasi sekarang ini bisa dimasukkan kedalam kebutuhan esensial, malahan terdapat kasus dimana ada orang yang lebih mentingin beli pulsa dari pada beli makan. (soalnya dia beli pulsa mau nelpon bapaknya minta kirim duit hehehe)
Ya udah deh sekian dulu posting perdana saya yah.. kalo anda senang dengan posting ini harap kasih komentar yang bagus-bagus.. kalo anda gak senang juga sama aja kasih komentarnya yang bagus juga yah.. heheheheh
